Belajar Ikhlas Dari Para Salaf

Written by adamendvy   // 21-03-2012   // 2 Comments

embun-pagi

Dari Abu Ja’far al-Hadzdza diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Aku pernah mendengar Ibnu Uyainah berkata,
‘Apabila amalan hati bersesuaian dengan amalan zahir, itulah keadilan. Apabila amalan hati lebih baik dari amalan zahir, itulah keutamaan.Dan apabila perbuatan zahir lebih bagus dari amalan hati, itulah kepuasan.’” (Shiatsu Shafwan4/141,142)

 

Dari Abdullah bin Mubarak diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Hamdan bin Ahmad pernah ditanya, “Mengapa ucapan ulama Salaf lebih berguna dari ucapan kita?”

Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan kerjaan ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan keridhaan manusia.” (Shifatush Shafwah2/234)

Diriwayatkan bahwa tukang cerita yang tinggal dekat dengan Muhammad bin Wasit berkata, “Kenapa kulihat hati manusia itu tidak khusyu, tidak berlinang air matanya dan kulitnya tidak bisa merinding (mendengar ceritakan)?”
Muhammad bin Wasi menjawab,

“Wahai Fulan, karena kulihat orang-orang itu hanya mendapat cerita (kosong) darimu.Apabila kata-kata itu berhulu dari hati, niscaya ia akan sampai ke hati.” (Syiar A’lam an-Nubala‘ 6/122) 

Aun bin Marah berkata, Aku pernah mendengar Hisyam ad-Dustuwai menyatakan, “Demi Allah, aku tak berani menyatakan sama sekali bahwa suatu hari aku pernah pergi mencari hadits karena Allah semata.”

Menurut hemat saya (adz-Dzahabi), demi Allah demikian juga halnya dengan saya. Dahulu generasi as-salaf menuntut ilmu karena Allah, maka mereka pun jadi terhormat dan menjadi para imam panutan. Kemudian datang kaum lain yang menuntut ilmu yang pada mulanya bukan karena Allah dan berhasil memperolehnya. Namun kembali ke jalan yang lurus dan mengintropeksi dirinya sendiri dan akhirnya ilmu itu sendiri yang mendorong dirinya menuju keikhlasan di tengah jalan.
Sebagaimana dikatakan oleh al-Mujahid dan lainnya, “Dahulu  kami menuntut ilmu tanpa niat yang tinggi. Namun kemudian Allah menganugerahi niat sesudah itu.” Sebagian ulama menyatakan, “Kami hendak menuntut ilmu untuk selain Allah, namun ternyata ia (menuntut ilmu -ed) hanya bisa dilakukan karena Allah.
Sumber: Belajar Etika dari Generasi Salaf, Abdul Aziz bin Nashir al-Jalil dan Bahauddin bin Fatih Uqail, Darul Haq, Cetakan 1 2005
***
Bookmark and Share


Tags:

belajar ikhlas

ikhlas para salaf


Similar posts

  • http://spesifikasihargahp.blogspot.com Spesifikasi harga hp

    kunjungan sore sobat

  • http://amqanet.com amqanet

    artikel yang bagus…
    mudah2an saya bisa meniru… Amiiinnnn

Abdullah bin Mas'ud

ajaran syi'ah

akhlak dikala sakit

Akhlak Rasulullah

akhlak seorang muslim

aktivis dakwah

Alam Jin

Amr bin Ash

aqad kerjasama

aqad perjanjian

Aqidah

bank konvensional

Batu

BBM naik

belajar ikhlas

Berita Islam

bidadari bermata jeli

Bidadari dunia

bidadari surga

cek hadits

Cinta

Cinta Sejati Islami

Eksistensi Jin

faedah mempelajari bahasa arab

fananitk kepada ulama

firqah syi'ah

ghazwul fikr

hari akhir zaman

hari kiamat

Hidayatullah

Hukum Bisnis

hukum islam

hukum meminjam uang di bank

hukum mlm

hukum parcel

Hukum Perayaan Tahun Baru Masehi

hukum pernikahan

hukum riba

ikhlas para salaf

Ikhwan jatuh cinta

Islam Malaysia

jejak islam

kaderisasi dakwah islam

khitbah

Kisah Shahabat

kisah Syaikh Abdul Qaidr Al-Jailani

manajemen diri

Manajemen Qolbu

membagi masakan kepada tetangga

membangun usaha islami

mengidolakan artis

menolak pinangan

muslimah

muslimah kuliah

nasehat imam syafi'i

Nasihal Ibnul Qayyim

Nikah

nikah yang dilarang syari'at

pandangan islam

pandangan islam tentang kenaikan BBM

pergerakan dakwah kampus

Perihal Cinta

perintah berjilbab

Remaja

renungan

riba

Riyadhus Shalihin

saling menasehati dalam kebaikan

sejarah syi'ah

Selamat Datang

seminar ukki

sifat shalat nabi

SII

sii-ukki

sikap kepada pemerintah

Sirah An-nabawi

sirah sahabat

Sirah Shahabat

Studi Islam Intensif

Syarat Sah Mandi Wajib

tahun baru

tentara nazi masuk islam

think positve

tuntunan shalat

wali nikah

waninat bekerja

Zubair Bin Awwam